Apa Itu Saham? Cara Kerja Emiten di BEI dan Kenapa Harganya Naik Turun?

(Artikel ke-3 Series Belajar Investasi 2026 untuk Pemula Indonesia – Kripto Web3)

Yo bro/sis pemula! Kalau artikel sebelumnya kita udah bahas dasar banget soal investasi vs nabung vs trading, sekarang kita masuk ke level selanjutnya: saham. Banyak yang bilang "saham itu ribet" atau "cuma buat orang kaya", padahal sebenarnya konsepnya sederhana banget—mirip beli bagian kecil dari perusahaan favorit kamu.

Bayangin kamu lagi ngopi di Starbucks. Kamu suka banget kopinya, pelayanannya oke, cabangnya makin banyak. Terus kamu mikir: "Keren nih, kalau gue punya bagian kecil dari Starbucks, gue bisa ikut untung kalau mereka makin rame." Nah, itu intinya saham: kamu beli "potongan kecil" dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Yuk kita bedah satu-satu, santai dan tanpa bikin pusing.

1. Apa Itu Saham Secara Simpel?

Saham = bukti kepemilikan sebagian kecil dari sebuah perusahaan.
Kalau perusahaan untung besar, kamu bisa dapat bagian keuntungan (dividen) atau nilai sahamnya naik (capital gain). Kalau rugi, ya nilai saham bisa turun juga.

Apa Itu Saham? Cara Kerja Emiten di BEI dan Kenapa Harganya Naik Turun?
Ilustrasi: Apa Itu Saham dan Cara Kerja Emiten di BEI

Di Indonesia, perusahaan yang sahamnya bisa dibeli orang umum disebut emiten—artinya perusahaan yang sudah "emisi" (menerbitkan) sahamnya ke publik lewat IPO (Initial Public Offering / Penawaran Umum Perdana).

Contoh emiten terkenal di BEI:

  • BBCA (Bank Central Asia) – bank swasta terbesar
  • TLKM (Telkom Indonesia) – operator telekomunikasi negara
  • BBRI (Bank Rakyat Indonesia) – bank BUMN yang kuat di UMKM
  • UNVR (Unilever Indonesia) – produk sabun, shampoo, dll yang ada di rumah kamu

Jadi kalau kamu beli 1 lot saham BBCA (100 lembar), kamu secara resmi jadi pemegang saham kecil Bank BCA. Keren kan?

2. Cara Kerja Emiten di BEI (Bursa Efek Indonesia)

BEI itu kayak "pasar saham resmi" di Indonesia, mirip mall gede tempat orang jual-beli saham setiap hari kerja (Senin–Jumat, jam 09.00–15.00 WIB).

Proses sederhananya:

  1. Perusahaan ingin ekspansi (bikin pabrik baru, buka cabang, bayar utang), tapi butuh duit banyak.
  2. Mereka IPO: jual saham pertama kali ke publik lewat BEI, diawasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan).
  3. Setelah IPO, sahamnya listing di BEI → orang bisa beli/jual kapan saja lewat aplikasi sekuritas (Ajaib, Stockbit, Bibit, IPOT, dll).
  4. Harga saham bergerak setiap detik berdasarkan supply & demand (penawaran & permintaan).

Kalau banyak orang mau beli (demand tinggi), harga naik. Kalau banyak yang jual (supply tinggi), harga turun. Simpel seperti jualan gorengan di pinggir jalan: rame pembeli → harga naik, sepi → harga turun.

3. Kenapa Harga Saham Naik Turun? (Faktor Utama yang Bikin Harga Bergerak)

Harga saham nggak naik-turun sembarangan. Ini faktor-faktor utama yang biasa bikin harga gerak liar:

Faktor Internal Perusahaan (Fundamental)

  • Laporan keuangan bagus: laba naik, pendapatan tumbuh, utang terkendali → harga cenderung naik.
  • Dividen gede & rutin: investor suka, harga stabil/naik.
  • Berita buruk: rugi besar, skandal, direksi mundur → harga anjlok.

Faktor Eksternal (Makroekonomi & Sentimen)

  • Suku bunga BI naik → pinjaman mahal, perusahaan susah ekspansi → saham bank & properti sering turun.
  • Ekonomi Indonesia tumbuh kuat (GDP naik) → saham consumer & ritel naik.
  • Inflasi tinggi → saham defensif (makanan, utilitas) lebih tahan.
  • Geopolitik: perang dagang, pemilu, harga minyak dunia → bisa bikin IHSG (indeks saham Indonesia) naik-turun.

Faktor Psikologi & Sentimen Pasar

  • FOMO: orang rame-rame beli karena takut ketinggalan → harga pump cepat.
  • Panic selling: berita buruk → orang buru-buru jual → harga dump.
  • Rumor & hype: grup WA atau X bilang "saham ini bakal naik 200%", orang ikut-ikutan tanpa cek → harga gerak liar.

Perbandingan dengan Kripto (Biar Relate)

  • Saham BEI: regulasi ketat (OJK awasi), perusahaan nyata punya aset & laporan keuangan, volatilitas biasanya lebih rendah daripada kripto.
  • Kripto: hampir nggak ada regulasi di banyak tempat, proyek bisa anonim, volatilitas ekstrem (bisa +100% atau -90% dalam sehari), lebih banyak spekulasi.

Jadi saham cocok buat yang mau investasi jangka panjang dengan risiko lebih terkontrol, sementara kripto lebih cocok buat yang suka adrenalin tinggi.

4. Ringkasan Buat Pemula

  • Saham = potongan kecil kepemilikan perusahaan.
  • Emiten = perusahaan yang sahamnya dijual ke publik di BEI.
  • Harga naik-turun karena supply-demand, fundamental perusahaan, ekonomi makro, dan emosi pasar.
  • Saham bukan judi kalau kamu paham dasarnya dan sabar.

NFA (Not Financial Advice):
Semua informasi di artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan hiburan semata. Ini bukan saran investasi, rekomendasi beli/jual saham apa pun, atau nasihat keuangan profesional. Pasar saham sangat berisiko—harga bisa naik turun drastis, dan kamu bisa kehilangan sebagian atau seluruh modal yang diinvestasikan. 

Selalu lakukan riset sendiri (DYOR), konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi jika perlu, gunakan hanya uang dingin, dan pahami bahwa hasil masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Penulis dan blog ini tidak bertanggung jawab atas keputusan atau kerugian apa pun yang timbul dari informasi di sini.

Bagikan di komentar: Saham apa yang pertama kali kamu kenal atau penasaran? BBCA? TLKM? Atau malah belum punya akun sekuritas? Cerita dong! 🚀

#InvestasiPemula #SahamIndonesia #BelajarInvestasi2026 #KriptoWeb3

(Sumber inspirasi: Prinsip dasar dari situs resmi BEI, OJK, dan pengalaman komunitas investasi ritel Indonesia. Selalu cek data terkini ya!)

Aziz
Aziz Seorang penulis dan digital marketing dengan minat khusus blockchain, web3, isu-isu alam dan pertanian yang ramah lingkungan!.

Posting Komentar untuk "Apa Itu Saham? Cara Kerja Emiten di BEI dan Kenapa Harganya Naik Turun? "